Surat Nuh Dan Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran

Posted on

Surat Nuh dan Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran – Sahabat belajaralquran.id salah satu kisah nabi yang banyak memberikan pelajaran berharga Adalah kisah dakwah Nabi Nuh AS. Kisah perjuangan dakwah ini di abadikan dalam Alquran. Pada Alquran itu sendiri, terdapat surat alquran yang dinamakan surat Nuh. Dalam artikel ini juga kita dapat membaca ayat ayat alquran Surat Nuh, yang merupakan surat Alquran ke 71, sekaligus mendengarkan lantunan ayat suci alquran suran Nuh yang merdu dari seorang qori. Sahabat sahabat juga dapat mendownload lantunan ayat suci alquran surat nuh dalam bentuk file mp3.

Nabi Nuh as sebagai manusia pilihan Allah diutus kepada penduduk bumi untuk memberi peringatan dan memberi ancaman kepada kaumnya dari siksa Allah swt. Ia memperingatkan manusia untuk senantiasa menyembah Allah swt dan bukan menyembah selain Dia.

Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi Nuh as untuk mengancam kaumnya yang ingkar bahwa azab Allah akan datang yaitu banjir bandang yang akan menenggelamkan seluruh manusia yang ingkar dan kafir.

Kehidupan Nabi Nuh as merupakan kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Dia adalah rasul yang paling panjang usianya dan paling gigih perjuangannya.

Dia hidup dalam masa yang sangat panjang dan hidup beratusratus tahun. Hidup di tengah kaumnya sembilan ratus lima puluh tahun, memberi peringatan dan nasihat kepada kaumnya, serta menyeru mereka ke jalan Allah swt

Masa Hidup Nabi Nuh as

Nabi Nuh as adalah generasi yang ke sepuluh dari Nabi Adam as. Nuh adalah bin (anak) Lamak bin Metusylah bin Akhnukh, yaitu Idris. Silsilah (nasab) ini berkelanjutan sampai syith bin Adam as, bapak semua manusia.

Jumlah dan Nama Putra Nabi Nuh

Nabi Nuh as mempunyai empat orang putera, mereka adalah :

  1. Sam,
  2. Ham,
  3. Yafith dan
  4. Qan’an.

Qan’an adalah putera Nabi Nuh as yang tenggelam dalam taufan karena dia tidak mau mengikuti seruan ayahnya. Dia adalah anak yang inkar dan kafir sehingga dia tidak berhasil menyelamatkan diri dari banjir yang menenggelamkan seluruh umat Nabi Nuh as yang kafir. Adapun ketiga puteranya yang lain, mereka telah selamat.

Sam adalah bapak bangsa Arab (Smith). Ham adalah bapak orang-orang Ethiopia. Yafith adalah bapak bangsa Romawi.

Ada beberapa hadist yang berhubungan dengan soal ini, di antaranya ash-Shabuni mengutip hadist riwayat Imam Ahmad dari Nabi saw, sabdanya :

”Sam bapak bangsa Arab, Ham bapak bangsa Ethiopia dan Yafith bapak bangsa Romawi”

Nabi Nuh as menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” yaitu masa kekosongan di antara dua rasul di mana manusia secara berangsurangsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka.

Ketika Nabi Nuh as datang ke tengah-tengah kaumnya, mereka sedang melakukan penyembahan berhala. Mereka memberi nama berhala-berhala itu Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Mereka adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh as dan setelah mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar mendirikan di tempat tinggal mereka patung-patung mereka dan berikan pada patung-patung itu nama-nama mereka.

Orang-orang melakukannya dan mereka tidak menyembah patung-patung itu, namun setelah orang-orang ini meninggal dunia dan melupakan ilmu lalu disembahlah patung-patung itu. Sekian lamanya kaum Nuh as menyembah berhala.

Mereka menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai sesembahan yang diharapkan darinya kebaikan dan memohon perlindungan kepadanya dari segala kejahatan, menyerahkan segala urusan dalam kehidupan ini kepadanya.

Oleh karena itu, Allah swt mengutus Nabi Nuh as untuk menyeru dan memberi peringatan kepada mereka. Allah swt telah berfirman sebagai berikut:

Allah swt mengutus Nabi Nuh as, seorang yang jelas ucapannya, cerdas dan lembut. Allah telah memberikan kekuatan kepadanya untuk berdebat dan kemampuan mengemukakan argumentasi untuk mematahkan semua alasan yang disampaikan oleh kaumnya.

Nabi Nuh as menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, namun mereka berpaling. Ia juga memberikan peringatan dengan siksa yang pedih, serta memberikan kabar gembira dengan ganjaran yang besar, namun mereka tetap buta dan tidak mau mendengar, serta menyombongkan diri.

Betapa berat penderitan Nuh as dalam perjuangan ini serta musibah besar yang dialami nabi ini dalam masa yang panjang. Kehidupan yang merupakan rentetan penderitaan, siksa dan bencana yang tidak dapat ditanggung kecuali oleh nabi-nabi yang sangat sabar dan teguh hati.

Oleh karena itu Nabi Nuh as termasuk salah satu rasul Ulul’ Azmi. Nuh as, sebagai rasul Allah, di samping meluruskan kembali penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia, ia pun merupakan tonggak pemacu perkembangan sosial budaya umat manusia.

Dia telah mencoba mengadakan revolusi pemikiran terhadap kaumnya dari menyembah berhala kepada menyembah Allah swt. Nuh as, dengan bimbingan Allah, telah membuat perahu guna menyelamatkan umatnya dan budaya manusia dari kehancuran (bencana alam/banjir besar)

Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran

Pada suatu hari Nabi Nuh as mendatangi kaumnya untuk menyampaikan risalah yang diembannya, tetapi kaumnya senantiasa merendahkannya serayaberkata :

“ Wahai Nuh, bukankah telah beratus-ratus kali kami mengatakan bahwa kami tetap menganggap dirimu sebagai manusia biasa seperti kami. Buat apa kami harus mengikuti kata-kata bualanmu itu? Seandainya ada seorang malaikat diutus kepada kami, mungkin kami dapat mengikutinya serta membenarkan apa yang dikatakan olehnya.

Dan perlu engkau ketahui bahwa orang-orang yang mengikutimu adalah orang-orang yang bodoh dan rendah, sedangkan kami ini adalah orang-orang mulia, mempunyai pekerjaan serta kedudukan yang tinggi.

Maka ketahuilah bahwa kami semua tidak perlu lagi bertukar pikiran ataupun meminta pertolongan orang lain, cukup dengan kepintaran serta kepandaian kami saja, sedangkan engkau sendiri juga tidak mempunyai kelebihan daripada kami, baik mengenai harta benda, akal pikiran maupun mengenai wawasan dalam kehidupan ini. Maka berhentilah dari omong kosong atau bualanmu itu”.

Cercaan dan hinaan mereka itu kemudian dijawab oleh Nabi Nuh as :

”Baiklah, aku memang tidak lebih pandai dari kalian semua, namun kalaukalian merasa lebih pandai, dapatkah kalian memutar jalannya matahari dengan kepintaran kalian itu atau meraih bintang-bintang di langit dengan tangan kalian? Juga bisakah kalian mendapatkan cahaya terang kalau tidak lantaran matahari yang telah diciptakan oleh Allah Ta’ala, dan bisakah kalian hidup tanpa udara yang dijadikan oleh Allah Ta’ala?”

Kaum Nabi Nuh as diam sejenak, kemudian mereka kembali berkata dengan sanggahan baru yang memang sengaja dibuat-buat:

“Wahai Nuh, kalau engkau ini benar-benar merupakan manusia yang mencintai sesama, cintailah orang-orang yang mengikutimu itu saja, dan biarkanlah kami karena kami tidak dapat mengikuti langkah mereka. Kami tidak dapat mengikuti agama yang mereka anut, yaitu agama yang telah engkau ajarkan kepada mereka, sehingga dengan demikian akan nampak perbedaan yang jelas antara raja dan rakyat jelata, orang-orang mulia dan orang yang hina dina, antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa”.

Nabi Nuh berkata :

“Wahai kaumku, perlu kalian ketahui, bahwa agama Allah itu tidak membedakan antara si pintar dan si bodoh, antara raja atau budak, antara yang sedang kuasa dengan yang dikuasai, antara si kaya dan si miskin. Hal-hal seperti itu tidak berlaku di hadapan Allah, hanya takwalah yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya” .

Kaum Nabi Nuh menjawab

:”Wahai Nuh, sesungguhnya kami ini sudah sering kali berdebat sehingga kami sudah merasa muak dan bosan. Oleh karena itu datangkanlah siksaan dari Tuhanmu sebagaimana yang sering kali engkau katakana kepada kami kalau engkau memang orang yang benar. Tapi kami merasa bahwa engkau tidak akan mampu mendatangkan siksaan tersebut”.

Itulah jawaban kaum Nabi Nuh disebabkan mereka benar-benar sudah merasa tersudutkan dan merasa sempit dada mereka. Mendengar tantangan dari kaumnya yang seperti itu, dengan sabar Nabi Nuh menjawab :

”Sungguh kalian adalah orang-orang yang sangat bodoh, bukannya rahmat Allah yang kalian minta, tetapi siksaan Allah. Hendaklah kalian ketahui bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apabila Allah menghendaki siksaan atas dirimu, maka akan disegerakanlah siksaan itu, di mana kamu kelak akan menyesalinya”.

Kaum Nabi Nuh berkata :

” Ah sudahlah, hentikan saja bualanmu dan segerakanlah siksaan itu kepada kami niscaya kami tidak akan takut apalagi sampai menyesal. Pokoknya engkau tidak usah lagi mengajak-ajak kami, mengerti?”.

Demikianlah, mereka menggunakan berbagai cara yang aniaya, menuduh dan menteror supaya dapat melemahkan hati dan mematahkan semangat Nabi Nuh as. Tuduhan-tuduhan palsu dan dusta ini merupakan senjata orang-orang durjana setiap masa dalam menghadapi seorang nabi mulia atau seorang dai yang akan mengusahakan perbaikan.

Nabi Nuh as Membuat Kapal

Nabi Nuh as berada di tengah-tengah kaumnya dalam kurun waktu yang sangat panjang, menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan mengajak menyembah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh as tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya.

Bahkan kaum Nabi Nuh as tidak akan ada lagi yang beriman kecuali orang-orang yang telah dahulu beriman. Setelah perdebatan yang sengit dengan kaumnya berlalu, akhirnya Nabi Nuh as lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan berdo a kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam surat Nuh ayat 25 dan 26 berikut ini:

Nabi Nuh as memohon kepada Allah agar seluruh orang kafir dimusnahkan dan mereka jangan dibiarkan hidup. Sebab, jika di antara mereka ada yang dibiarkan hidup, tentulah yang masih hidup itu nantinya akan berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah yang beriman.

Selain itu, mereka yang dibiarkan hidup akan melahirkan anak-anak yang kafir. Selain memohon kepada Allah swt agar membinasakan kaumnya, Nabi Nuh as juga memohon agar Allah swt mengampuni kesalahannya, kedua orang tuanya dan orang-orang yang bersamanya.

Do’a Nabi Nuh as tertulis dalam Surat Nuh ayat 28 sebagai berikut:

Thabathaba’i memberi penjelasan tentang ayat di atas, bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang masuk ke rumahnya dengan beriman” adalah semua orang dari kaumnya yang beriman kepadanya, dan orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan pada umumnya sampai Hari Qiyamat.

Permohonan Nuh as akhirnya dikabulkan oleh Allah swt dan Allah akan menghancurkan mereka dengan taufan. Kemudian Allah memerintah Nuh as untuk membuat sebuah kapal. Nabi Nuh as mengumpulkan para pengikutnya dan mereka mulai mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk membuat kapal.

Nabi Nuh as membuat kapal tersebut atas perintah dan petunjuk wahyu dari Allah swt

Dalam menyelesaikan pembuatan kapal, Nabi Nuh as tidak luput dari ejekan kaumnya yang kebetulan lewat atau sengaja melalui tempat pembuatan kapal tersebut. Hampir setiap orang yang lewat di tempat itu, mereka mengejek Nabi Nuh as dengan berbagai macam ejekan, seperti kata mereka :

Hai Nuh, kemarin kamu mengaku nabi, tiba-tiba kini kamu telah menjadi tukang kayu.

Mereka berkumpul menonton dan sekali-kali tertawa lantang pada saat Nuh as bersungguh-sungguh dan bekeija keras. Ada pula yang mengejek Nabi Nuh beserta kaumnya yang setia sebagaimana katanya :

Wahai Nuh, apa manfaatnya kapal yang saat ini tengah engkau buat itu sedangkan di sekitar sini kami tidak menjumpai lautan atau sungai? Apakah untuk menjalankan kapal itu akan engkau tarik dengan belasan ekor lembu? Atau barangkali engkau terbangkan ke udara seperti layaknya seekor burung raksasa?.

Para pemuka masyarakat di sekitat Nabi Nuh as menuduh Nabi Nuh as berusaha meraih keunggulan atas kaumnya, yaitu mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan dan kekayaan. Mereka mengatakan bahwa Nabi Nuh as sebagai orang kesurupan.

Ejekan kaum yang zhalim tidak hanya sampai di situ saja, bahkan pada suatu malam ketika Nabi Nuh as dan para pengikutnya tertidur disebabkan terlalu lelah bekeija di siang hari, kaum yang zhalim tersebut membuang kotoran (tinja) dan air kencingnya di atas kapal yang belum selesai tersebut.

Tentu saja pada pagi harinya di sana sini terdapat kotoran dan air kencing manusia-manusia duijana tersebut, sehingga Nabi Nuh menganggap mereka sudah melampaui batas. Di bawah ejekan dan gangguan kaumnya yang kafir serta zhalim tersebut Nabi Nuh beserta para pengikutnya meneruskan pekerjaan tersebut.

Tidak berapa lama kemudian pekerjaan pembuatan kapal itu pun telah selesai dengan baik. Allah swt memerintah Nuh as supaya menaikkan keluarga dan orang-orang yang beriman serta berbagai jenis hewan yang berpasang pasangan untuk melestarikan keturunannya.

Setelah itu akan terjadi taufan yang akan menenggelamkam orang-orang yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan. Pada saat azab Allah datang, air yang sangat deras menyembur dari dalam tanah dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, sehingga menyebabkan banjir dahsyat.

Dengan iringan “Bismillahi majreha w a mursaha”, kapal Nabi Nuh as mulai berlayar menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ribut.

Sewaktu Nabi Nuh as tengah berdiri di haluan kapal, tiba-tiba pandangannya tertuju pada salah satu orang yang timbul tenggelam di tengah dahsyatnya air yang bergolak tersebut yang tiada lain adalah seorang anaknya yang bernama Kan’aan, seorang anak yang kafir, ingkar, tidak mau mentaati perintah ayahnya.

Melihat keadaan seperti itu, Nabi Nuh as berusaha menyadarkan dan menghimbau anaknya seraya berkata Wahai Kan’an anakku, marilah bersama-sama dengan kami dan janganlah engkau bersama-sama orang yang kafir itu.

Meskipun ia putera nabi, tetapi tetap mengalami nasib yang menyedihkan karena tergolong orang-orang yang kafir. Pada saat itu timbullah rasa cinta kasih seorang ayah terhadap petera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

Kan’an yang tersesat dan telah terkena rayuan setan serta hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan ayahnya.

Akhirnya seluruh manusia ditenggelamkan, termasuk Kan an, putera Nabi Nuh as yang semula berfikir bahwa dia bisa selamat dengan berlindung ke gunung terdekat.

Namun ternyata dia tidak berhasil menyelamatkan diri dari azab Allah tersebut. Banjir bandang yang dahsyat serta gelombangnya yang bergulung-gulung tersebut telah memporak porandakan serta menelan seluruh kaum Nabi Nuh as yang kafir serta zhalim.

Semua pintu langit seakan tertutup kembali, curahan air hujan telah berhenti, sedangkan bumi telah pula menghisap air yang ada di permukaannya.

Adapun Nabi Nuh as berlabuh di atas sebuah bukit kecil bernama “Judiy” yang hingga kini bekas-bekasnya tengah dicari oleh orang-orang ahli sejarah. Untuk selanjutnya Nabi Nuh as beserta para pengikutnya kembali ke kampung halaman untuk menghirup udara dan suasana baru yang penuh dengan pertolongan serta berkah dari Allah Ta’ala

Ketika berlabuh di bukit Judi, Allah memerintah Nuh dan orang-orang yang menaiki kapal bersamanya untuk turun dengan aman selamat dan keberkahan dari Yang Maha Perkasa Maha Pengasih.

Mereka mendarat dari kapal pada hari ‘Asyura (sepuluh Muharram) setelah berada di atas kapal selama seratus lima puluh hari.

Maka pada hari itu Nabi Nuh as melakukan puasa untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah serta memerintahkan kepada pengikutnya untuk berpuasa pula.

Nuh wafat setelah tinggal di tengah kaumnya 950 tahun sebelum taufan, sedangkan sesudahnya hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut Ibnu ‘ Abbas masa hidup Nuh adalah 1780 tahun dan itu merupakan masa hidup manusia terpanjang. Setelah wafat Nabi Nuh dimakamkan di dekat Masjid Haram Mekah.

Surat Nuh

Surah Nuh adalah surah ke-71 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat. Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya. Apa makna yang terkandung di dalam Surat Nuh ?

Surat Nuh Arab, Latin dan Artinya

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1. اِنَّآ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖٓ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

innā arsalnā nụhan ilā qaumihī an anżir qaumaka ming qabli ay ya`tiyahum ‘ażābun alīm

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.”

2. قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۙ

qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn

Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,

3. اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاتَّقُوْهُ وَاَطِيْعُوْنِۙ

ani’budullāha wattaqụhu wa aṭī’ụn

(yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,

4. يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ اِذَا جَاۤءَ لَا يُؤَخَّرُۘ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

yagfir lakum min żunụbikum wa yu’akhkhirkum ilā ajalim musammā, inna ajalallāhi iżā jā’a lā yu’akhkhar, lau kuntum ta’lamụn

niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui.”

5. قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ

qāla rabbi innī da’autu qaumī lailaw wa nahārā

Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam,

6. فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا

fa lam yazid-hum du’ā`ī illā firārā

tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).

7. وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ

wa innī kullamā da’autuhum litagfira lahum ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum wa aṣarrụ wastakbarustikbārā

Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.

8. ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاۙ

ṡumma innī da’autuhum jihārā

Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan.

9. ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًاۙ

ṡumma innī a’lantu lahum wa asrartu lahum isrārā

Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam,

10. فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ

fa qultustagfirụ rabbakum innahụ kāna gaffārā

maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,

11. يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ

yursilis-samā`a ‘alaikum midrārā

niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,

12. وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ

wa yumdidkum bi`amwāliw wa banīna wa yaj’al lakum jannātiw wa yaj’al lakum an-hārā

dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

13. مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًاۚ

mā lakum lā tarjụna lillāhi waqārā

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?

14. وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا

wa qad khalaqakum aṭwārā

Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian).

15. اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۙ

a lam tarau kaifa khalaqallāhu sab’a samāwātin ṭibāqā

Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?

16. وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

wa ja’alal-qamara fīhinna nụraw wa ja’alasy-syamsa sirājā

Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?

17. وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًاۙ

wallāhu ambatakum minal-arḍi nabātā

Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur),

18. ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا

ṡumma yu’īdukum fīhā wa yukhrijukum ikhrājā

kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti.

19. وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًاۙ

wallāhu ja’ala lakumul-arḍa bisāṭā

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,

20. لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًاl

itaslukụ min-hā subulan fijājā

agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas.

21. قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ اِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهٗ وَوَلَدُهٗٓ اِلَّا خَسَارًاۚ

qāla nụḥur rabbi innahum ‘aṣaunī wattaba’ụ mal lam yazid-hu māluhụ wa waladuhū illā khasārā

Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya,

22. وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًاۚ

wa makarụ makrang kubbārā

dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.”

23. وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ

wa qālụ lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā’aw wa lā yagụṡa wa ya’ụqa wa nasrā

Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.”

24. وَقَدْ اَضَلُّوْا كَثِيْرًا ەۚ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا ضَلٰلًا

wa qad aḍallụ kaṡīrā, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā ḍalālā

Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

25. مِمَّا خَطِيْۤـٰٔتِهِمْ اُغْرِقُوْا فَاُدْخِلُوْا نَارًا ەۙ فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْصَارًا

mimmā khaṭī`ātihim ugriqụ fa udkhilụ nāran fa lam yajidụ lahum min dụnillāhi anṣārā

Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah.

26. وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا

wa qāla nụḥur rabbi lā tażar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā

Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

27. اِنَّكَ اِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوْٓا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

innaka in tażar-hum yuḍillụ ‘ibādaka wa lā yalidū illā fājirang kaffārā

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.

28. رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا

rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya muminaw wa lil-muminīna wal-mu`mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.”

Lantunan Ayat Suci Alquran Surat Nuh

Dengarkan lantunan ayat Alquran surat Nuh, yaitu surat ke 71 dalam alquran. Lantunan ayat alquran yang merdu ini dibacakan oleh seorang qori

Demikianlah artikel tentang perjalanan dakwah Nabi Nuh AS serta Alquran surat Nuh, Arab, latin dan artinya. Sahabat sahabat juga dapat mendownload lantunan ayat alquran surat nuh ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *